Sebagian koleksi pohon keraya saya. Foto: Terige.com Tiga-empat tahun lalu, pohon-pohon keraya yang masih berupa anakan, saya "selamatkan" dari sela tembok, pagar, atau cor semen. Di tempat terjepit seperti itu biasanya mereka ditemukan. Tak terasa, seiring waktu berlalu, mereka tumbuh menjadi pohon-pohon mini berkarakter purba! Sulur menjutai. Akar mengcengkeram hingga di luar pot. Baru sempat dipangkas tadi. Mengurangi tinggi dahan dan ranting. Juga mengurangi daun-daun yang kian rindang. Karena cemara tak berhasil tumbuh, maka keraya inilah yang menjadi Pohon Natal kami. Tempat jin begantong! Betendang-beterajang. (*)
Era itu masih amat jauh dengan ingar-bingar gadget. Apalagi medsos. Kecanggihan teknologi video call sungguh tak masuk dalam bayangan kala itu. Andai sudah ada medos, mungkin mudah menelisik jejak digitalnya. Apa boleh buat, kenangan ini hanya dari ingatan yang super duper pendek! Saya termasuk kucing kurap yang berada di suatu kawasan wisata Parangtritis. Waktunya, mungkin sekitar akhir era 90-an (kalian sudah lahir belum?). Ada acara mahasiswa asal Kalimantan Barat di sana. Saya lupa, mengapa saya ada di sana. Tapi yang pasti, karena mungkin diajak. Supaya ikut rame-rame. Jumpa kawan senasib di perantauan (mual sebenarnya pakai kalimat ini, merantau tuh kalau ke Planet Mars). Acaranya sendiri sulit saya ingat. Entah ngapain kami di sana. Mungkin tak jauh dari seremona-seremoni ala organisasi mahasiswa. Sambutan ini sambutan itu. Motivasi ini motivasi itu. Dan ujung-ujungnya: madhang! Di acara para mahasiswa ini, kegiatan pun berlangsung dengan tambahan main ke pantai. Sampai malam sa...
Foto: tangkapan layar Channel YouTube: Pace Bro Kala itu mungkin antara tahun 2010 atau 2011, seorang teman menunjukkan buku berjudul Jungle Child karya Sabina Klueger. Saya meminjam dan membacanya hingga tuntas. Tidak puas, saya cari di toko buku, sudah tidak dijual. Beruntung ada teman yang bisa menghubungkan ke distributornya, sehingga saya bisa memiliki buku itu satu buah. Lama kemudian, saya mendengar kisah nyata dalam buku itu difilmkan. Semakin puas menyimak kisahnya. Kisah kehidupan. Nyata, dan ditulis sendiri oleh pelakunya, Sabine, seorang anak Eropa yang mengisi masa kecil hingga remajanya di pedalaman Indonesia. (*)
Komentar
Posting Komentar