Celetuk Senior di Angkot Parangtritis

Era itu masih amat jauh dengan ingar-bingar gadget. Apalagi medsos. Kecanggihan teknologi video call sungguh tak masuk dalam bayangan kala itu.

Andai sudah ada medos, mungkin mudah menelisik jejak digitalnya. Apa boleh buat, kenangan ini hanya dari ingatan yang super duper pendek!
Saya termasuk kucing kurap yang berada di suatu kawasan wisata Parangtritis. Waktunya, mungkin sekitar akhir era 90-an (kalian sudah lahir belum?). Ada acara mahasiswa asal Kalimantan Barat di sana.
Saya lupa, mengapa saya ada di sana. Tapi yang pasti, karena mungkin diajak. Supaya ikut rame-rame. Jumpa kawan senasib di perantauan (mual sebenarnya pakai kalimat ini, merantau tuh kalau ke Planet Mars).
Acaranya sendiri sulit saya ingat. Entah ngapain kami di sana. Mungkin tak jauh dari seremona-seremoni ala organisasi mahasiswa. Sambutan ini sambutan itu. Motivasi ini motivasi itu. Dan ujung-ujungnya: madhang!
Di acara para mahasiswa ini, kegiatan pun berlangsung dengan tambahan main ke pantai. Sampai malam saya berada di sana. Melihat ombak. Lama kelamaan, sawan sendiri. Ombak kian ganas. Saya balik kanan.
Acara selesai esok harinya.Tiba saatnya harus kembali ke Yogya. Saya tak punya kendaraan pribadi. Angkot jadi andalan.
Saya punya teman seorang senior. Dia kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI). Kalau ndak salah, jurusan fotografi. Rambutnya gondrong. Khas senimanlah. Entah kapan sebenarnya gondrong begituan bisa jadi cap seseorang menyandang status seniman.
Kami menunggu angkot di pinggir jalan. Saya lupa, selain kami berdua, siapa lagi kawan senasib yang naik angkot itu.
Angkot tiba, kami naik. Masih agak lowong waktu itu. Orang-orang bercakap-cakap dalam bahasa Jawa. Sebagian kecil saya pahami. Lebih banyak yang saya tak mengerti. Maklum, anak kemarin sore.
Semakin jauh, angkot semakin penuh. Penumpang baru senantiasa bertambah. Di satu titik, angkot berhenti. Ada penumpang hendak naik. Kami semakin menggeser duduk. Semakin terjepit.
Tak kusangka, senior itu berceletuk: "Nasiiib, jadi orang miskin." Saya tersenyum diam-diam. Penumpang lain mungkin tak mendengar. Perjalanan tetap lanjut.
Sampai di sini, saya lupa bagaimana ceritanya hingga kami tiba kembali di Yogya. Dan kehidupan pun berjalan seperti biasa. Nyaris "nir kejutan". Biasa-biasa saja. Dan kelak di kemudian hari saya menyesalinya. Mengapa harus menjalani hidup seperti orang kebanyakan. Sudahlah!
Sampai di suatu momen, saya jumpa lagi dengan senior itu. Saya memang senang berteman dengan dia. Jangan salah. Meski dia gondrong, sama sekali tidak menyiratkan sosok Orang Nazareth itu.
Mungkin senang saja karena tiap jumpa, selalu ngakak dengan gurauannya. Apalagi, dia memang senior kami. Panutan! Apa kata senior, ya itulah yang harus diikuti anak kemarin sore.
Ada cerita yang saya ingat dari si senior. Mengenai tradisi minum air tapai di kampung. Tuak. Bahkan, menurut dia, ada tradisi menyambut kedatangan orang yang lama merantau, dengan minum tuak.
Orang-orang kampung menunggu di gerbang desa. Mereka sudah siap dengan bambu atau tanduk, berisi tuak di dalamnya. Waktu itu, orangtua si senior bersama anak-anak hendak menjenguk kampung.
Dia yang masih kecil, mendengar seruan orang-orang: "Pancong buloh mudak, ogon mosik ogon togak." Sambil menuangkan tuak ke ayahnya.
"Aku masih kecil waktu itu, mau nangis liat bapakku digitukan," kenang si senior, tapi dengan ekspresi yang tidak sedih. Tertawa, malahan. Ya, itulah tradisi. Bagi anak kecil, terlihat aneh.
Di suatu acara perlombaan, saya melihat si senior menjadi juri lomba tarik tambang. Lomba olahraga antar sesama kawan seperantauan (ah mengapa harus pakai kata ini lagi). Acara yang mestinya kian mempererat persaudaraan.
Sayang, masih saja ada calon intelektual yang meletakkan status juara sebagai segalanya. Nilai persahabatan masih belum jadi prioritas.
Sang senior nyaris dikeroyok. Penyebabnya sepele. Ada tim yang merasa dia tak jujur sebagai juri.
Saat lomba tarik tambang, ada tim dengan body bagai atlit angkat berat ikut serta. Tapi mereka kalah. Senior ini jadi sasaran kemarahan tim yang tak terima dinyatakan kalah. Orang-orang berotot itu mendekati dia.
Kawan-kawan lain melerai. Saya melihat dari kejauhan. Saya tak punya nyali kalau urusan adu otot. Sejak kecil jarang saya berkelahi. Mental saya di "bidang" tersebut tak terbentuk.
Tim yang kalah merebut paksa tali yang menjadi alat perlombaan. Membawanya ke kos mereka. Kabarnya, mereka menyincang tali itu sebagai wujud kekecewaan.
Dalam situasi agak chaos begitu, saya lihat si senior tetap tenang. Tidak beringas, ataupun terpancing. Heran saya!
Perwakilan mahasiswa dari tim yang ngamuk akhirnya minta maaf. Saya menyaksikannya di sebuah rumah yang menjadi sekretariat. Tentu, perlakuan di ajang lomba kemarin itu, tidaklah mencerminkan seluruh anggota.
Waktu berlalu seperti biasa. Tanpa kejutan. Tanpa hal spesial. Atau ada? Saya lupa.
Kami jumpa lagi di Gedung Purna Budaya, Kompleks UGM. Ada acara tahunan mahasiswa asal Kalimantan Barat di sana. Isinya tak jauh-jauh dari pertunjukan seni budaya khas. Juga sekadar pameran apalah yang bisa dipajang.
Pendek kata, ajang saling bertemu teman seperantauan. Perantauan? Hmmm.
Saya berada di sana bukan karena masuk sebagai tim panitia. Cukup menjadi penggembira saja. Dan, ada tugas negara, mengantarkan pacar saya yang menjadi satu di antara tim penari yang akan tampil di panggung.
Senior itu saya jumpai dalam kondisi berbeda. Pakaian tetap serba hitam. Sampai sepatu, juga hitam. Tapi dia tak gondrong lagi. Sudah pangkas. Lumayan gagah.
Rupanya dia menjadi MC untuk acara itu. Bersama seorang cewek, entah siapa, saya tak bertanya. Yang jelas, tetap bagian dari kumpulan kami.
Sedikit pembicaraan kami masih kuingat. Statusku kala itu sudah mahasiswa tua. Penyakti kronis bergulat dengan skripsi yang tak kunjung menampakkan bab penutup. Sepertinya, kondisi yang sama dialami sang senior.
"Banyak kawan kita sudah wisuda," kira-kira begitu ucapanku.
"Tenang, bukan barometer. Itu bukan barometer," ucap si senior sambil berlalu agak terburu-buru. Mungkin dia segera akan bersiap di balik panggung.
Lamaaa kemudian. Saya pun lulus. Sempat merantau (hueeek) ke provinsi tetangga. Mulai kerja-kerji-kerja-kerji makan gaji. Icak-icak seorang profesional muda yang menangani suatu hal dengan jurus-jurus baru.
Tidak ada yang abadi di bawah langit. Sampai saya harus kembali ke tanah kelahiran ini. Tenggelam lagi di ajang duniawi membangun keluarga-kerja-cemas di akhir bulan-kerja-bagai-kuda-meski cuan belum tentu ada!
Sampai, suatu hari di usia yang makin meninggi, saya jumpa si senior secara tak sengaja di tanah kelahiran. Waktu itu saya meliput suatu ritual adat. Ndilalah, si senior ada di antara tamu.
Saya geram. Karena selama ini hanya berchit-chat di gadget. Janji mau jumpa tak kunjung tercipta. Dia memang tidak tinggal di provinsi ini. Jalan hidup menuntunnya bertahan di bagian Jawa Dwipa yang Agung.
Inilah saatnya. Saya harus culik dia barang sejenak. Setelah seluruh rangkaian acara selesai, kudatangi dia.
"Ikut motorku, kugonceng Nuan. Kita ngopi lalu cerita."
"Akai bah. Aku ndak ada helm."
"Bodo amat. Aku hafal jalan tikus di sini."
Dengan pasrah, si senior naik ke boncengan. Jalur tikus demi jalur tikus kami lewati, sampai tibalah di bilangan Jl Gajah Mada. Di warkop Corner yang cukup terkenal, kami berhenti. Saya sengaja pilih warkop itu, karena dekat dengan losmen tempat senior nginap.
"Nah, kita ngopi." Ndilalah, saya pun lupa apa yang kami bicarakan kala itu. Nasiiib jadi orang miskin! (*)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keraya, Pohon Natal Kami

Jungle Child oleh Sabina Klueger